Rintihan Gembel di Gerbang Taman Sya’ban

gembel

Ya Allah,  gembel yang lusuh ini berjalan gontai menuju gerbang taman Sya’ban. Ia ingin memasukinya agar desiran angin yang semerbak meranggas menerpa jiwanya, memekarkan kuncup hatinya, memantikkan cahaya dalam kalbunya.

Juraganku, belakangan ini lidahku lebih lincah merangkai kata saat menumpahkan sambat di hadapan-Mu. Aku makin cengeng saat bermunajat di hadapanMu. Shalawat senantiasa meluncur dari bibirku. Suaraku parau karena pita di tenggorakanku nyaris tak pernah istirahat menggesek dentuman duka yang meluap dari relung dadaku.

Gelayutanku, aku tidak tahu mengapa doa-doaku dan doa-doa yang kupesankan pada orang-orang lebih baik dariku seakan belum terjawab. Mungkin aku terlampau memaksa. Tapi yang membuatku beranggapan demikian ialah masalah-masalah itu kian menumpuk menghantam dinding jiwaku. Tidurku menjadi sangat pendek. Tawa sudah lama tak menghampiriku. Wajah polos anak-anakku juga tak mampu mengusir dukaku.

Tambatan hatiku, depresi itu sedemikian berat dan dahsyat sehingga saat datang, semua yang indah menjadi acak, semua yang terang jadi buram, semua yang lembut jadi kasar. Bersihkan itu dari angkasa jiwa orang-orang yang melemparkan jangkar di tepianMu. Terimalah orang-orang yang labuhkan rakit di dermagaMu. Buktikan kekuasaan dan kasih-Mu dengan mengubah nasib mereka karena Engkau hanya menciptakan kebaikan dan keindahan.

Pemilik wujudku, dada hambaMu yang sedang berkeluh di hadapanMu ini sangat sempit sehingga tentu tidak mampu menampung beban-beban yang amat berat dan besar itu. Restuilah jejiwa suci untuk berbagi rasa dan menghiburku dengan bantuan dan pancaran malakuti.

Tumpuan harapanku, andai saja ada cara yang lebih tepat untuk memancing ibaMu, niscaya itu kulakukan. Tapi aku yakin doa-doa para makhluk terbaikMu adalah bahasa yang sesuai dengan hadiratMu. Karena itu, terimalah yang sedang berdiri sempoyongan tak kuasa mengetuk pintu-Mu.

Penadah butir tangisku, maafkan hambaMu yang tak tahu diri ini. Izinkan bongkahan dosa dan dusta ini melumuri dirinya dengan madu kasihMu di bulan madu ini …

Cintaku, kabulkan semua doa istri (suami), orangtua, keluarga, teman-teman dan semua yang sedang gelisah, sedang mengharapkan kiriman roh di rahminya, menanti lelaki yang menyerahkan kuntum kasih dan dan kado perlindungan, mengangankan rumah yang menjadi mihrabnya, mengais rezeki agar terhindar dari kekufuran dan semua yang berprasangka baik terhadapMu. (dicopy dari draft buku yg sdg disusun)


Advertisements

6 Responses to “Rintihan Gembel di Gerbang Taman Sya’ban”

  1. sangat indah ustadz…

  2. semoga aku ikut galam doa ustad. amin

  3. doelhamdi Says:

    buku apa ustadz…?

  4. abu turab Says:

    Amiin yaa Rabb tad doa kan ana juga yah

  5. abu al hasan Says:

    siapa nulis ? Dr Muhsin Labib Assegaf ? siapa berani menolak kecemerlangan hati dan pemikirannya ? kudunya beliau ini sudah tampil di festival festival budaya. minimal di Salihara, atau Kafe Cemara …..

  6. Syahruddin parakkasi Says:

    syukron, ini sekaligus nasehat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: