Somalia : Antara Kelaparan dan Radikalisme Wahabi

Nama Somalia belakangan ini tiba-tiba mencuat lagi karena perang saudara yang menelan ribuan korban jiwa dan pengungsi antara Pemerintah yang dipegang oleh kelompok Islam moderat dan faksi-faksi Islam radikal (wahabi).

Somalia adala nama yang diambil dari kata Somali (Soo Maal) yang berarti kaya dengan sumber kehidupan. Negara itu merupakan satu-satunya negara di dunia dengan penduduk 100 Muslim. Seluruh Muslim di sana adalah kaum Suni yang mempraktekkan kitab Iman Syafi’i. Orang-orang yang hidup di Somalia umumnya berbicara Somalia dan Arab, plus bahasa Rahanwayn minoritas di selatan Somalia.

Ada empat suku besar di Somalia yakni Hawiye, Isaaq, Darod, dan Rahanwayn. Isaaq, Darod, dan Hawiye memiliki akar Arab, sementar Darod adalah keturunan dari Darod Ismail Jabarti yang berasal dari selatan Yaman. Isaaq, lebih tepatnya adalah keturunan Sheikh Isaaq bin Ahmed yang berasal dari Mosul Irak. Sedangkan Hawiye adalah kombinasi dari beberapa kelompok berbeda namun umumnya dari Yaman.

Para warga Somalia setelah ambruknya ADAL, mulai mendatangai universitas Arab khususnya Universitas Al-Azhar di Mesir. Hubungan antara Arab dan Somalia pun bertambah kuat, terutama antara Yaman dan Kesultanan Oman.

Beberapa lulusan Universitas Al-Azhar kembali pulang termasuk Sayed Abdullah Hassan, yang memiliki julkan, The Mad Mullah atau Mullah yang Gila. Ia bukanlah orang yang bijak dan mulai membangun pasukan untuk berjuang melawan Inggris. Ia mencoba mengambil alih beberapa bagian Tanah Somalia terutama area Hawd. Inggris pun menghancurkan pasukkannya dengan bom udara. The Mad Mullah itu pun terbunuh dalam serangan udara yang dilancarkan pasukan Inggris.

Sayed Abdullah Hassan (the Mad Mulla) dulu dikenal sebagai seorang penganut paham Sufi dan meyakinkan banyak warga Somalia untuk mempraktekan cara hidup Sufi sebagai keyakinan Islam. Namun kelompok Salafi, yang juga dijuluki Wahabis Somalia menolak ide pengasingan dari dunia luar. Para penganut Wahabi tersebut pun mulai berjuang untuk menyebarkan pandangan mereka di Somalia  sekitar empat dekade lalu.

Sayed Abdullah Hassan (the Mad Mulla) dulu dikenal sebagai seorang penganut paham Sufi dan meyakinkan banyak warga Somalia untuk mempraktekan cara hidup Sufi sebagai keyakinan Islam. Namun kelompok Salafi, yang juga dijuluki Wahabis Somalia menolak ide pengasingan dari dunia luar. Para penganut Wahabi tersebut pun mulai berjuang untuk menyebarkan pandangan mereka di Somalia  sekitar empat dekade lalu

Hingga tahun 1960, mayoritas Muslim Somalia mempraktekkan paham Sufi, paham yang mendapat penghormatan besar di hampir seluruh suku Somalia. Warga menganggap Sufi memiliki tingkat kekerasan jauh lebih sedikit bila dibanding Salafi.

Namun setelah gerakan ulet yang dilakukan kaum Salafi selama 40 tahun lebih, berangsur-angsur membuat sebagian warga Somalia meninggalkan paham Sufi. Kini kondisi mulai berbalik. Jumlah praktek sufi lebih sedikit dibanding para penganut paham Salafi.

Salah satu keunikkan lain yang bisa ditemukan dalam tradisi Islam Somalia menulis Al Qur’an dengan lembar dari kayu dengan tinta yang dibuat dari batu-bara Somalia. Penulisan ulang dilakukan karena penduduk tidak mengerti bahasa Arab sehingga pengajaran dilakukan dengan bahasa Somalia.  Praktek penulisan macam itu sendiri masih dapat dijumpai hingga sekarang hanya saja semakin jauh berkurang.

Kini, di beberapa propinisi yang dikuasai oleh faksi Shabab al-Mujahidin (Pemuda Pejuang), sebuah milisi bersenjata berfaham salafi ekstrem yang berperang melawan Pemerintah Somalia yang didukung oleh Amerika dan Uni Afrika, hukum Islam hingga pada hal-hal yang detail mulai diberlakukan, seperti penggunaan cadar (penutup wajah) bagi semua wanita dan keharusan melakukan shalat jamaah saat azan dikumandangkan, dengan imbalan sanksi didera beberapa kali depan khalayak.

Somalia, kini berada dalam dua masalah besar, kelaparan dan radikalisme.

Advertisements

4 Responses to “Somalia : Antara Kelaparan dan Radikalisme Wahabi”

  1. kita berlomba dengan berbagai faham dalam islam dalam rangka pencerahan umat tidak ketinggalan faham radikalpun ikut meramaikan, disetiap daerah konflik unsur radikal mudah masuk dan ikut memperparah kondisi umat. Afganistan, pakistan, dan dulu kita hampir saja terkena firus raikal di ambon, untungnya para petinggi negeri cepat tanggap. saat ini kita membutuhkan figur sang juru selamat untuk membawa umat kejalan kedamaian yang dijanjikan.

  2. di indonesia kalo kita liat hampir mirip dengan somalia bukankah dulu sebagian besar umat islam menganut paham sufi , sampai kemudian muhammadiyah datang, lalu nu mempertahankan pembaruhan yang di tawarkan muhammadiyah
    sekarang menyusul paham wahabi, dll…..
    paham sufi tampaknya juga makin surut….habis paham sufi gerakannya gak terencana dengan baik dan tidak ada kesatuan walaupun ada organisasi thorikoh yang bisa dikatakan sufi tapi organisasi kegiatannya tidak bersifat haroki dan agresif….ya lama lama kampus dan sekulahan di kuasai mereka …ya wajar….sufi cuma mengutamakan kesucian hati sih
    akibatnya bidang lain ummat ya di isi mereka….
    seharusnya gerakan thoriqoh harus menata diri hingga menjadi pergerakan yang siap hadir di tengah2 masyarakat dengan seluruh problematikanya
    wallohua’lam

  3. Ahmad Rofiq Says:

    Maaf Ustadz saya kurang sependapat dengan cara ustadz memandang persoalan somalia…dengan berpendampat ” Somalia, kini berada dalam dua masalah besar, kelaparan dan radikalisme”.

    saya ingin menggambarkan dengan cara yang sederhana : menurut saya kondisi Somalia hampir mirip seperti Iran sebelum Revolusi Islam 1979, dimana pemimpin somalia saat ini sama seperti Reza pahlevi saat itu… yang walaupun beragama Islam namun menghambakan diri pada pada negara barat…

    Jadi kelompok Mujahidin disomalia adalah kelompok pembaharu yang ingin mengikis pengaruh barat dari bumi Islam, sama seperti Mujahidin di Afghan….

    jadi menurut saya Mujahidin layak mendapat do’a dan dukungan dari kita semua…

    semoga Allah melindungi kita semua..Amiin

  4. Abi Mirza Says:

    ustadz ana ralat dikit, 100 diatas pasti persen ya? hehehe
    semoga segala bentuk radikalisme yang mengatasnamakan Islam tercerabut hingga ke akar2nya.
    Allahumma Shalli ‘alaa Muhammad wa ‘alii Muhammad

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: