Film “Perempuan Berkalung Sorban” Menuai Kecaman

pbs2dlm

Kontroversi film Perempuan Berkalung Sorban membuat Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Tifatul Sembiring ikut bersuara. Ia mendukung seruan Imam Besar Masjid Istiqlal Ali Mustafa Yakub agar film itu diboikot. Ia pun meminta film itu dikoreksi.

“Menyeru umatnya boleh-boleh saja kan. Apalagi kalau itu dianggap berbahaya atau kurang baik, lantas mereka serukan, ya silakan saja,” kata Tifatul kepada detikcom

Tifatul sendiri mengaku belum menonton film tersebut. Tetapi kalau ada yang memojokkan kalangan pesantren, menurutnya sah-sah saja jika film tersebut dikoreksi.

“Seperti yang saya baca di media, seolah-olah ajaran Islam itu seperti itu, melarang begini dan begitu padahal ini tidak benar secara fikih umumnya. Menurut saya tidak ada salahnya dikoreksi filmnya, dari pada bikin heboh,” tambah pria kelahiran Bukittinggi, Sumatera Barat ini

Presiden PKS itu lantas mengimbau agar para pekerja kreatif seperti film lebih berhati-hati dalam melahirkan karyanya bila bersentuhan dengan SARA. “Kalau menurut saya, hal-hal yang berkaitan dengan SARA itu harus hati-hati,” pungkas Tifatul.

Perempuan Berkalung Sorban menceritakan perlawanan Anissa, seorang santriwati terhadap pengekangan perempuan di pesantren. Dalam film itu, Annisa berkata Islam tidak adil terhadap perempuan. Film menampilkan diskriminasi terhadap perempuan yang dilakukan ulama dengan dalih agama, seperti perempuan tidak boleh jadi pemimpin, perempuan tidak boleh naik kuda, perempuan tidak perlu berpendapat dan perempuan tidak boleh keluar rumah tanpa disertai muhrimnya.(detik)

Advertisements

12 Responses to “Film “Perempuan Berkalung Sorban” Menuai Kecaman”

  1. MOSLEM GOTHE Says:

    KENAPA HARUS DILARANG……KALAU KALANGAN ULAMA TIDAK MERASA MENJADIKAN AGAMA UNTUK PENGEKANGAN TERHADAP PEREMPUAN….BIARKAN SAJA….

    KECUALI KALAU KALANGAN ULAMA DAN PESANTREN TAKUT KEMAPANAN TERGANGGU….NAH ITU BUKAN FILMNYA DILARANG TAPI LARANG AJA CALON PENONTON YANG SEPAHAM DENGAN ULAMA YANG TIDAK SETUJU DENGAN FILM TERSEBUT DENGAN MELARANG MENONTON….

  2. realitanya, di banyak tempat, kehidupan di pesantren bahkan lebih parah lagi. Kyainya pada nyabu, santriwatinya di peristri, padahal istrinya sudah bejibun. Bukan filmnya yang perlu dikoreksi, justru pemahaman agama para kyai yang punya pesantren itu + metode pengajaran agamanya

  3. intinya cuma satu…udah pada keluar from the right path sih!! ya jadi berantakan cara berfikir tentang islam sesungguhnya…ayoo balik balik to the right path

  4. Abadal aabidiin Says:

    Presiden partai kok ngurus2 film..lebih gawat lg blm nonton filmnya udh brani ksh komentar,pak sembiring lebh afdhol anda ngurusin kader/simpatisan partai supaya ga berkeliaran di tmpt ma’shiat (maaf).malah ikut2 an,atau sok sibuk memasung kreativitas orang.ntar lg mau pemilu konsilidasi aja deh pak.afwan

  5. Dear ….

    Hanung Bramantyo ? Malezzz ahhh ………

  6. Biasanya yang dilarang malah bikin makin penasaran, lagian kalo dikit2 dilarang seperti ini nanti malah membuat image Islam yang mengekang kebebasan berpendapat dan berekspresi. Padahal bukan cuman di pesantren, di Nergri barat saja, masih banyak ulama muslimnya yang menggunakan hadits2 dhaif yang sangat merendahkan perempuan seperti hadits perempuan yang menolak hub S dengan suaminya maka dilaknat oleh malaikat sampai pagi, wanita jika disuruh mengangkat batu berat oleh suami walaupun dari gunung satu ke gunung lain harus menurut. dan mgkn masih ada ribuan hadits serupa lainnya.

    Saya cukup yakin penonton muslim sekarang lebih pintar dan kritis. Film ini harusnya justru menjadi otokritik. Tapi buat pembuat film atau penulis skripnya juga harusnya melakukan research mengenai hadits2 yang dikutip dan merewview scene2 yang pantas dan tidak.

  7. ngapain sewot? kalau sewot, saya harapkan jangan sampai melakukan tindak kekerasan (bukan anarkis lho)

    Kalau emang gak setuju dengan film tersebut, ya ajak donk dialog yang buat film. Atau buat film tandingan…

  8. lha film itu jg kan memang buat komsumsi publik saudara2ku….
    sehingga tiap orang bebas memberi komentar, kalau ada yang ga suka ya menjadi hak mereka, ga mungkinkan dia malah bilang suka padahal ga suka atau benar padahal salah (munafik namanya) dan sebaliknya…
    biarkan mereka berkomentar apa adanya, saya malah heran kalau ga ada yang ngeritik, atau nyela, yang sewajarnya sih selain ada yang memandang positif juga akan ada yang memandang negatif
    kembalikan ke pembuatnya ataupun naratornya, jika memang mereka tidak merasa melakukan perbuatan yang memancing SARA yah seharusnya memang langsung berbicara dan tunjukkan bahwa memang tidak seperti itu, dan kalau mereka sadar walaupun dengan tidak sengaja film mereka telah memancing SARA yah seharusnya mereka meminta maaf dan melakukan koreksinya, tapi yang jadi masalah adalah kalau kita maupun pembuat filmnya nya menjadi sewot saat ada kritikan yang menerjang, lha ngapain jg jadi sewot toh???
    jangankan si Pak Hanung yang manusia biasa…
    Allah sebagai Tuhan Sang pencipta yang Maha Sempurna aja di kritik ma ciptaannya sendiri… hehehe
    btw kalau Allah marah karena di kritik yah sudah sepantesnyalah, kenapa?? lha masakh begini aja mo dijelasin jg sich??… (aku jadi ikut sewot.. :P)

  9. Alsan diskirminasi terhadap perempuan yang dilakukan ulama dengan dalih agama, seperti perempuan tidak boleh jadi pemimpin, perempuan tidak boleh naik kuda, perempuan tidak perlu berpendapat dan perempuan tidak boleh keluar rumah tanpa disertai muhrimnya. Hal ini menunjukkan bahwa kurang adanya info yang benar dari Ulama.Makanya harus adanya penjelsan dari MUI atau ulama lainnya terhadap masalah tersebut

  10. saya rasa hanung itu cuman pengen uang aja gk ngurusin bakal ribut atau gk, ituah para sineas film kebanyakan mementingkan keuntungan tapi tidak memikirkan dampaknya, karena film itu telah berkaitan dengan salah satu agama, jadi kal gk ngerti tanya dulu jangan sok tauuuuuuu, dasar otak kadal, otak mesum, otak udang, otak otak….

  11. Abadalaabidiin Says:

    siapa sih yg gak mau uanag ya sayid,itulah kreativitas selalu dicekal dan di cekal.yg ditampilkan mas hanung juga bukan hal yg prinsipil dalam islam antum sebaiknya jgn terlalu esmosi.fiqih itu pasti ada perbedaan sudut pandang.sisi positif nya pasti ada dalam alur cerita film tsb.apalgi di isi dg cacian seperti itu hiasilah dg kalimat yg menyejukan.afwan

  12. sayyid Says:
    February 12, 2009 at 12:02 pm

    saya rasa hanung itu cuman pengen uang aja gk ngurusin bakal ribut atau gk, ituah para sineas film kebanyakan mementingkan keuntungan tapi tidak memikirkan dampaknya, karena film itu telah berkaitan dengan salah satu agama, jadi kal gk ngerti tanya dulu jangan sok tauuuuuuu, dasar otak kadal, otak mesum, otak udang, otak otak….

    ———–
    Baca kritikan di atas saya jadi miris.. Beginilah kritikus2 dengan pendidikan rendah, menggunakan kata2 yang tidak sepantasnya muncul dalam forum publik :). Dan yang lebih lucu lagi: sang kritikus mengatakan orang lain bodoh…padahal ..*sigh*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: