AS Abstain, PBB Serukan Gencatan, Israel Terus Menggempur

as-abstain-rice-n-dubes-tomboy-israel

Pesawat-pesawat tempur Israel terus membombardir Gaza saat PBB menyerukan gencatan senjata, Kamis (8/1) malam. Sedikitnya 30 serangan udara dilancarkan Israel dalam gempuran terbaru, menewaskan sedikitnya enam orang.

1_883914_1_59

Saksi mata dan tim medis kepada AFP menyebutkan, enam korban tewas itu sebagian besar berasal dari satu keluarga di Jalur Gaza utara.

Berdasarkan laporan terakhir, jumlah korban rakyat Palestina sejak dimulainya serangan negara Yahudi itu terhadap Gaza, 27 Desember, telah mencapai 774 orang. Korban tewas sebagian besar berasal dari penduduk sipil, terdiri atas wanita dan anak-anak. Selain itu, sekitar 3.200 orang lainnya cedera.

Dewan Keamanan PBB, Kamis, menyerukan gencatan senjata segera di Gaza yang diharapkan oleh negara-negara Arab dapat mengakhiri serangan 13 hari Israel. Namun, AS dengan tidak diduga abstain dalam pemungutan suara itu.

Sebuah resolusi yang dirancang dalam tiga hari tawar-menawar antara negara-negara Barat dan Arab menekankan perlunya gencatan senjata segera dan menarik semau pasukan Israel dari Gaza.

Resolusi itu juga menyerukan membentuk peraturan guna mencegah penyelundupan senjata ke para pejuang Palestina. Beberapa pejabat Arab khawatir abstainnya AS dapat melemahkan tekanan terhadap Israel untuk mentaati resolusi itu.

Para diplomat mengatakan, Menlu AS Condoleezza Rice, yang beberapa kali dalam hari itu berbicara dengan PM Israel Ehud Olmert, berbicara melalui telepon dengan Presiden AS George W Bush persis sebelum pemungutan suara itu dilakukan.

Rice mengemukakan kepada Dewan Keamanan bahwa Washington mendukung resolusi yang diprakarasi Mesir dan Uni Eropa itu. Ia menjelaskan, AS abstain hanya karena pihaknya ingin melihat apakah resolusi itu mendapat dukungan.

Dengan tidak mendukung resolusi itu, AS dianggap berpihak pada sekutu dekatnya, Israel. Israel menentang gagasan resolusi PBB yang mengikat. Dubes Yahudi untuk PBB Gabriela Shalev menekankan, tindakan negaranya untuk melancarkan serangan di Gaza sebagai pembelaan diri.

Sementara itu Pemerintah Indonesia menyambut baik Resolusi No 1860/2009 tentang serangan militer Israel ke Jalur Gaza yang disahkan oleh Dewan Keamanan (DK) Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) pada Jumat (9/1) pagi (kompas)

Advertisements

8 Responses to “AS Abstain, PBB Serukan Gencatan, Israel Terus Menggempur”

  1. israel memang bajingan !!!!!!……… serang aja senegara arab kenapa sich????….. keroyok…………

  2. AS sampai kiamat aka dukung israel, sekarang saatnya kita jadikan AS dan israel musuh kita bersama kaum muslimin

  3. ini berita yang ngeri pak, sumber = http://www.kompas.com/read/xml/2009/01/09/17021371/serangan.paling.sadis.rumah.berisi.110.orang.diberondong.israel

    Jumat, 9 Januari 2009 | 17:02 WIB

    JERUSALEM, JUMAT — Pasukan Israel menyerang sebuah rumah berisi 110 warga sipil di Jalur Gaza. Ironisnya, justru pasukan Israel yang mengumpulkan mereka ke dalam satu rumah itu.

    Sejumlah saksi mata menyatakan, saat memasuki Kota Zietun, pasukan darat Israel mengevakuasi warga ke dalam rumah tersebut dan meminta agar tetap di dalam rumah. Setengah di antara mereka adalah anak-anak.

    Sehari kemudian, rumah tersebut tiba-tiba ditembaki secara membabi buta oleh pasukan Israel. Sebanyak 30 orang di antaranya tewas.

    Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) menyebut insiden tersebut sebagai serangan paling sadis sejak Israel melakukan serangan ke Palestina. Sebelumnya, Israel tidak hanya membidik gerilyawan Hamas, tetapi secara membabi buta mengebom masjid, rumah sakit, dan sekolah.

    WAH
    Sumber : Antara

  4. kalb al-Hussain Says:

    Ada kabar terbaru gak mengenai operasi darat Israel di Gaza?
    Tampaknya militer Zionis sudah kehilangan inisiatif dalam operasi kali ini menghadapi perlawanan Gaza yang ternyata “Tidak sesuai norma-norma yang diajarkan di West Point dan Sandhurst mengenai bagaimana seharusnya angkatan bersenjata yang telah diembargo 18 bulan berlaku”

  5. Sikap AS bukan tidak diduga tapi Luarrr Biasa, setelah sebelumnya mem-Veto draft2 yang diajukan untuk gencatan senjata.

    Heran, dimana logika DK PBB…pencegahan penyelundupan senjata..sdangkan senjata2 selundupan mereka adalah rakitan sederhana yang jelas untuk membela diri dan negara mereka. Disisi lain, ISRAEL yang terus2 bilang membela diri, dengan senjata lengkap dan roket2 canggih membabi buta hingga menewaskan warga sipil 800 org.

    APA INI yang disebut MEMBELA DIRI??

  6. Semakin nyata bahwa AS pendukung demokrasi dan HAM adalah bohong belaka…. Nyatanya AS tidak tersentuh nuraninya ketika menyaksikan bayi-bayi, anak-anak kecil, perempuan-perempuan menjadi korban bom curah Israel buatan AS sama seperti yang pernah digunakan oleh tentara Paman Sam di Irak…. Dimana suara-suara pendukung liberalisasi AS yang selama ini mengagung-agungkan kebebasan itu? Aneh mereka juga tidak berkomentar terhadap keganasan Israel, bahkan mereka cenderung ikut ‘bos’nya menyalahkan Hamas….

  7. saya lihat di photo paling atas terlihat si kacung zionis Condo terpekur lesu begitu…
    abis diomelin tuannya?

  8. Operation Cast Lead: Implikasinya bagi Israel & Hamas

    Oleh: Kapten Inf Kukuh Suharwiyono, B.S.*, Kontributor TANDEF

    Konflik yang terjadi antara Israel dan Hamas sebenarnya telah terjadi sejak puluhan tahun yang lalu. Hal ini semakin meruncing ketika Hamas
    berhasil menguasai pemerintahan di Gaza melalui kudeta berdarah pada Juni 2007. Gesekan antara kelompok garis keras Hamas dan Israel tidak dapat dihindarkan hingga dicapai perjanjian 6-bulan gencatan senjata yang berakhir pada 26 Desember 2008 lalu.

    Momentum berakhirnya gencatan senjata ini dipandang Israel sebagai awal strategis untuk menghancurkan kekuatan Hamas sampai ke akar-
    akarnya. Seminggu sebelum gencatan senjata berakhir, Israel menghentikan seluruh suplai makanan dan kebutuhan pokok lain yang
    masuk ke Gaza di sepanjang jalur pantai dan darat. Hal ini menimbulkan shortage logistik masyarakat Gaza umumnya dan pihak Hamas khususnya. Hamas pun menjawab strategi Israel dengan menekan balik melalui peningkatan aktivitas serangan roket ke Israel. Suatu reaksi yang memang diharapkan oleh Israel sebagai pembenaran serangan balik Israel ke Jalur Gaza. Sebuah sumber Departemen Pertahanan Israel yang tidak mau disebutkan namanya berkata, “Kelihatannya operasi militer Israel akan dimulai dengan serangan udara untuk melawan peluncuran roket dan dilanjutkan dengan invasi darat.” 1

    Momentum ini juga sengaja dimanfaatkan oleh tokoh-tokoh Israel yang mencalonkan diri sebagai Perdana Menteri untuk menaikkan popularitas
    pada pemilihan umum tanggal 10 Februari 2009 nanti. Termasuk Menteri Luar Negeri Tzipi Livni dan Menteri Pertahanan Ehub Barak yang saat
    ini posisinya sangat tidak menguntungkan karena tekanan Benjamin Netanyahu untuk mengambil langkah secepatnya terhadap keamanan Israel. Namun, Livni lebih pandai dalam mengambil kesempatan. Dialah orang Israel pertama yang menyatakan akan menyerang Hamas. Padahal, Ehud Barak sebagai Menhan seharusnya yang paling berkesempatan mengambil peluang ini.

    Ketidakmampuan Ehud Barak bertindak cepat bukanlah tidak beralasan. Setidaknya ada 3 alasan penting mengapa dia terlambat bersikap
    dibandingkan dengan Menteri Luar Negeri dalam menyatakan perang melawan Hamas. Pertama, moril tentara Israel masih rendah karena ekses kekalahan perang musim panas 2006 di Lebanon sungguh diluar perkiraan Israel, dimana ratusan personel dan tank Markava IDF (Israeli Defence Force) diluluhlantakkan Hezbollah. Kedua, kekhawatiran yang besar juga menyelimuti warga sipil dan personel IDF karena saat ini secara de facto Israel masih memiliki konflik dengan 3 negara besar di jazirah Arab; Iran, Syria, dan Lebanon dalam hal ini Hezbollah. Apabila Israel membuka front dengan Hamas di perbatasan selatan, bukan tidak mungkin Hezbollah, Iran dan Syria akan ikut membantu Hamas karena mereka memiliki keterkaitan emosional dan politik. Ketiga, Ehud Barak kurang percaya akan kemampuan Israel dalam mengambil keputusan pelik. Hal ini terjadi pada kasus pembebasan seorang prajurit Israel bernama Gilead Shalit yang telah ditahan oleh tentara Hamas lebih dari dua tahun. Barak lebih memilih jalan diplomasi lewat Mesir daripada melakukan negosiasi langsung antara Israel-Hamas .2

    Serangan Udara Tidak Membawa Hasil

    Serangan udara selama 5 hari yang dimulai tanggal 27 Desember 2008 dengan menggunakan pesawat F-16 dan helikopter Apache ternyata tidak sesuai harapan. Tujuan Israel untuk “mengembalikan keamanan di Selatan” dengan satu cara, yaitu menghentikan penembakan (roket) Hamas ke Israel belum tercapai. Hamas masih mampu menembakkan sekitar 70 roket ke Israel dalam satu hari walaupun serangan udara dipergencar
    dan lebih intensif dibanding perang melawan Hezbollah 2006. Bahkan bisa dikatakan serangan udara Israel gagal, seperti pernyataan Jeffrey
    White, seorang peneliti Washington Institute for Near East Policy (WINEP) sekaligus mantan analis Defense Intelligence Agency,
    “penggunaan angkatan udara Israel mampu menekan kemampuan Hamas untuk melakukan serangan balik, namun akibat yang dihasilkan oleh Israel juga dibawah pencapaian yang seharusnya bisa dipenuhi.” 3

    Keputusan melakukan invasi darat pada Operation Cast Lead ini sempat menjadi perdebatan besar dan keraguan bagi kalangan ahli militer
    Israel. Beberapa ahli militer mengatakan bahwa jika Israel ingin melakukan invasi darat in full scale operation maka Israel harus
    menyiapkan setidaknya 10.000 personel. Untuk itu, 6500 tentara cadangan dikerahkan dalam rangka memperkuat IDF melakukan serangan
    darat. Pertimbangan kedua adalah pengalaman perang 2006 dengan Hezbollah membuktikan bahwa serangan darat akan beresiko tinggi jika
    Hamas, yang memiliki roket sama dengan Hezbollah pada perang yang lalu, belum sepenuhnya dihancurleburkan. Dan pertimbangan ketiga,
    sikap presiden Amerika terpilih Barrack Obama yang hanya diam mengenai pembunuhan etnis di Gaza dan situasi geopolitik regional Timur Tengah menjadi tanda tanya besar bagi Israel. Israel belum meyakini bahwa Obama akan berada dibelakang Israel dan memberikan restu terhadap kepentingan politik dan keamanannya di Timur Tengah. Beberapa hal yang mengindikasikan kebijakan Obama akan berseberangan dengan George W. Bush diantaranya: rencana penarikan pasukan Amerika dari Iraq, penolakan kampanye Global War on Terrorism, dan keinginan Obama untuk menggunakan jalur diplomasi dalam membicarakan masalah nuklir Iran, bukan melalui tindakan militer 4 . Namun dari semua pertimbangan diatas, Israel menggarisbawahi indikasi ketidakberpihakan Obama pada kebijakan politik Israel. Sehingga hari-hari terakhir Bush dikursi kepresidenan dijadikan tumpuan untuk menunjukkan kemampuannya sebagai kekuatan penentu di Timur Tengah.

    Delapan hari penyerangan besar-besaran yang dilakukan Israel untuk menghancurkan militansi Hamas baik lewat udara maupun darat ternyata
    berbuah pahit. Hamas masih mampu menembakkan roket jauh kedalam wilayah Israel walaupun berbagai markas Hamas dan infrastruktur
    pemerintahan hancur, listrik diseluruh wilayah Gaza padam, suplai bahan kebutuhan pokok serta bantuan medis menipis. Pertanyaan yang
    muncul kemudian adalah, “apakah penghentian penembakan roket oleh Hamas benar-benar akan tercapai ketika Hamas masih memegang kendali pemerintahan di Gaza?”

    Kontraproduktif bagi Israel dan IDF

    Penyerangan Operation Cast Lead sebagai pembantaian etnis di Gaza, pembersihan Hamas sampai ke akar-akarnya atau apapun itu sebutannya bukanlah hal yang mudah. Walaupun kekuatan Hamas tidak sekuat Hezbollah dan medan tempur Gaza tidak sesulit Lebanon Selatan, namun Israel perlu berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan untuk mendapatkan kemenangan mutlak. Kabinet Israel pun mulai meragukan keberhasilan serangan ini. Dalam sebuah rapat pada hari kedelapan penyerangan tentara Israel ke Hamas, kabinet Israel menyimpulkan “Hamas tidak dapat ditumpas.”5 Suatu kesimpulan yang sangat mengejutkan dan sulit diterima.

    Serangan yang memakan korban paling mengerikan sepanjang sejarah Gaza, dimana didalamnya termasuk anak-anak, perempuan dan orang lanjut usia, sama sekali tidak mengecilkan semangat Hamas dalam berjuang mempertahankan wilayahnya. Bahkan simpati kepada Gaza semakin hari
    semakin besar dan sebaliknya kecaman bertubi-tubi diteriakkan kepada Israel dari sejumlah tokoh internasional. Bantuan kemanusiaan yang
    dikirimkan dari berbagai penjuru dunia merupakan bukti nyata semakin meluasnya simpati dunia internasional kepada penduduk Gaza, yang
    secara tidak langsung juga berimbas kepada Hamas.

    Keinginan Israel untuk membakar habis Hamas sampai ke akar-akarnya ternyata berbuah dendam yang membara terhadap Israel disetiap sanubari rakyat Gaza, bahkan janin yang masih didalam kandungan. Popularitas Hamas di Palestina pun semakin naik seperti halnya Hezbollah di Lebanon setelah memenangkan pertempuran 34 hari-nya. Kemenangan Hamas pada pemilu legislatif 4 tahun lalu akan semakin menaikkan posisi Hamas ke puncak tiang bendera aspirasi politik Palestina. Mereka dipandang sebagai pejuang bangsa dalam mempertahankan kedaulatan negara. Dan secara bersamaan akan menurunkan kredibilitas kelompok pro-Barat, Fatah, pimpinan Mahmoud Abbas dinegaranya sendiri. Pemerintahan Abbas yang dinilai korup oleh masyarakatnya akan dipandang sebelah mata dan sebaliknya Hamas dapat menjadi alternatif lain yang lebih baik. Seperti pernyataan seorang analis politik Israel, Aluf Benn, pada 2 Januari 2009 di surat kabar Haaretz “Jika
    perang ini berakhir imbang, seperti yang diprediksikan, dan Israel gagal untuk menguasai kembali Gaza, maka Hamas akan memperoleh
    pengakuan diplomatik.”

    Bagi Israel sendiri, waktu yang tersisa sampai Barrack Obama disumpah untuk menduduki kursi kepresidenan Amerika Serikat pada 20 Januari mendatang sangatlah sempit. Pertaruhan kredibilitas kemampuan teknologi angkatan bersenjatanya yang disampaikan Perdana Menteri Israel, Ehud Olmert, pada wawancara eksklusif berbahasa Arab di saluran televisi Al Arabiya sebelum penyerangan pertama ke Gaza bahwa “kami lebih kuat” menjadi beban berat dan hutang tak terbayarkan Israel.

    Jika Israel tidak mampu menyelesaikan pertarungan ini dengan absolute victory maka perang ini menjadi kekalahan ke dua melawan non-state enemy di Timur Tengah. Dampak terbesar yang akan muncul bagi bala tentaranya adalah krisis kepercayaan diri. Padahal musuh bebuyutan Israel di Lebanon, Hezbollah, saat ini mengaku memiliki kekuatan dan persenjataan tiga kali lebih besar dibanding perang 2006. Sekjen Hezbollah, Hassan Nasrallah, dalam pidatonya memperingati As Syura awal tahun ini juga mengatakan bahwa Hezbollah telah memiliki roket anti pesawat terbang jika Israel menyerang dan mengganggu ketenangan Lebanon. Selain misil baru dengan jangkauan lebih jauh sampai ke Tel Aviv atau Negev, Dimona, sebuah kota instalasi nuklir Israel berada. Bagi penduduk Israel, hal ini berarti mimpi buruk yang akan selalu menghantui dibawah bayang-bayang kekhawatiran dan serangan balik yang lebih agresif dari Gaza kelak dikemudian hari.

    Selanjutnya, Hamas pun akan memiliki bargaining position di meja perundingan yang lebih menentukan untuk memaksakan tuntutan penghapusan boikot ekonomi dan pembukaan jalur perbatasan darat yang selama ini diberlakukan.

    Pertaruhan Terakhir

    Walaupun beberapa perwira militer Israel masih meyakini mereka akan memenangkan peperangan ini 6 , namun pertanyaannya “Berapa lama waktu yang dibutuhkan Israel untuk menghabisi Hamas?” Akhirnya, Israel harus membuktikan bahwa taktik IDF yang digunakan dalam Operation Cast Lead merupakan taktik paling ampuh untuk membungkam Hamas berapapun harga yang harus dibayar. Jika tidak, maka Israel harus menyiapkan payung perlindungan roket yang lebih canggih bagi keamanan warganya di masa depan dalam mengantisipasi dendam kesumat masyarakat Gaza, selain menciptakan taktik baru yang lebih kredibel komprehensif untuk mempertahankan eksistensinya di jazirah Arab. Namun, hal ini sekaligus berarti kemenangan mutlak bagi Hamas secara militer, politik dan diplomasi interasional.

    *Penulis saat ini masih bergabung dibawah Satgas Yonif Mekanis TNI Konga XXIII-C/UNIFIL di Lebanon Selatan. Sebelum bergabung dalam penugasan PBB, penulis menjabat sebagai Kaur Data & Statistik Spaban I/Ren Spersad.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: