Monumen Oase Khum (18 Dzulhijah)

menuju-khum3

Demi Tuhan awan dan halilintar

jubahku dipakai gelandangan

puisiku dibaca orang-orang gila

rumahku dijarah penyamun sahara

tamanku dirusak kawanan srigala

Siapa rajawali, siapa kurcaci?

Siapa ksatria, siapa pecundang?

Mana samudra, mana gelembung buih?

Mana lelangit, mana lubang ular?

Perih, debu di mata

Nyeri, duri di rongga

Sesak, batu di dada

pangeran tak bermahkota

sebatang kara


Mestikah kutabuh genderang perang…

niscaya iringan keranda bersambung

Mestikah kutari-tarikan pedang…

dan menara-menara masjid runtuh

Mestikah kuterjang…

lalu Muhammad tersedu


aku hela napas

aku tengadahkan paras

aku labuhkan rasa

aku menangkan tabah

aku serahkan kepada sejarah

Advertisements

7 Responses to “Monumen Oase Khum (18 Dzulhijah)”

  1. Assalamu’alaika ya amirul mu’minin Ali ibn Abi Thalib….
    On this day I renew my allegiance, loyalty, and place my honor upon your service O’ Commander of the Believer.
    And on this day I congratulate the Master of the Age on the establishment of Divine leadership, the complete formation of Islam, and the victory of good over evil. May the believers throughout this world remain steadfast and unite, until the promised day on the end of tyranny and injustice.
    The Almighty said upon this blessed day:
    “This day have I perfected for you your religion and completed My favor on you and chosen for you Islam as a religion” (Al-Maaidah:3)
    Allahu Akbar!!

  2. ya Ali madad!

  3. MOSLEM GOTHE Says:

    Selamat berwilayah bagi para Pecinta dan Pengikut Setia Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib….Semoga Senantiasa Semangat berwilayah untuk kita semua

  4. SELAMAT HARI RAYA IDUL GHADIR 1429 H

    ALHAMDULILLAH, ALADHI JA’ALANA MINAL MUTAMASSIKINA BI WILAYATI AMIRUL MU’MININ ALI IBN ABI THALIB WAL A’IMMATI ALAIHIMUSSALAM.

  5. Salam ustad,… puisinya ndak ummuum! As’adallah ayyamakum!
    ada yg menarik juga untuk imam Ali dari teman:

    # pemilik pedang bermata dua #

    dia pemilik pedang bermata dua.
    yang telah menceraikan dunia.
    tak berhasrat terhadap surga.
    neraka tak menggentarkannya.

    apa yang mampu mengentarkan seseorang.
    kala hakikat sempurna terbentang.
    manusia sebesar musa.
    memohon tanda penguat rasa.
    tapi dia sang singa.
    tak butuh itu semua.

    dia pemilik pedang bermata dua.
    yang lebih paham jalan-jalan di langit ketimbang di dunia.
    di masa yang lalu.
    masa risalah baru.
    kala sang sepupu diburu.
    jiwa-raga dia membantu.
    meregang nyawa di peraduan.
    saat musuh kesetanan.

    fajar baru menyingsing.
    begitu banyak orang asing.
    mereka amat semangat.
    mengaku pengikut taat.
    tapi di mana mereka.
    saat gigi patah dan tubuh penuh luka.
    hanya ada dia di sana.
    pemilik pedang bermata dua.

    sang sepupu jadi mertua.
    termulia di antara semua.
    dua insan ilahiah.
    kini bersatu sudah.
    dari mereka akan lahir.
    khalifah bumi sampai akhir.

    matahari mulai tenggelam.
    orang asing bersorak riang.
    tapi dia tetap diam.
    mengantar matahari sampai benar-benar hilang.
    bukankah dia adalah bulan.
    yang terbit di waktu malam.

    dia pemilik pedang bermata dua.
    terampas hak-haknya.
    hak tuhannya.
    hak mertuanya.
    hak istrinya.
    hak anak-anaknya.

    hanya segelintir sobat setia.
    yang coba ingatkan manusia.
    bahwa malam telah datang.
    biarkan bulan bersinar terang.

    namun sementara itu.
    ada keramaian di ujung sana.
    merancang matahari baru.
    tuk sinari umat manusia.
    apa mereka lupa.
    malam bagiannya bulan.
    sementara matahari mereka.
    hanya pancarkan sinar kelam.

    manusia menjadi buta.
    tak lagi bisa melihat apa-apa.
    dia sang bulan pemilik pedang bermata dua.
    tak dibiarkan mengangkasa.
    sampai matahari-matahari kelam.
    tak lagi menyinari alam.

    apa mau dikata.
    kedengkian tak pernah sirna.
    ambisi selalu ada.
    keserakahan merajalela.
    pun kala bulan di angkasa.
    tak semua rela menerima sinarnya.
    mereka para buruk rupa.
    tak ingin keburukan mereka nyata.
    segala macam cara dicoba.
    tuk singkirkan bulan dari tempatnya.

    manusia.
    dari dulu hinga kini sama.
    kebutaan itu bersisa.
    hingga zaman sampai akhirnya.

    siapa yang salah.
    yang menyebabkan kebutaan abadi.
    orang asing itulah.
    dosa mereka tetap lestari.

    dia pemilik pedang bermata dua.
    kini tak lagi di dunia.
    tapi cahaya bulan tetap ada.
    menyinari siapa saja yang rela.

    yudi.
    mei 2005.

  6. Ied Gahdir hari rayanya seluruh umat di dunia ini kecuali WAHABI….!!!!!

  7. selamat hari raya idul ghadir:
    puisi yg mboiiss.. (sarat makna)
    tanpa menarikan pedang agama Ali terjaga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: