Habib dan Shihab: Sebuah Klarifikasi
Sejauh pengamatan saya, ada beberapa tipe ‘habib’ di Indonesia; pertama, yang berdakwah secara tradisional. Biasanya tipe ini kurang memperhatikan politik. Yang penting, acara pengajiannya semarak, meski kadang memacetkan jalan dan ukuran spanduk-spanduknya berlebihan. Ini tidak terlalu mengkhawatirkan.
Kedua, yang memberikan kontribusi nyata dalam berbagai bidang, terutama dalam bidang agama dengan pendekatan yang santun dan bisa diterima oleh semua kalangan. Tidak sedikit di antara mereka yang dikenal sebagai pejuang dan pahlawan kemerdekaan. Habib tipe kedua ini tidak mencantumkan gelar ‘habib’. Prof. DR. Quraish Shihab mungkin bisa dijadikan contoh tipe kedua ini.
Ketiga, yang secara sengaja memasang gelar ‘habib’ di depan namanya lalu dengan semangat amar makruf dan nahi mungkar menggalang massa dan melakukan tindakan-tindakan yang sensitif sehingga menimbullkan gangguan sosial dan politik.
Sedangkan “Shihab” adalah nama marga yang cukup besar dan berumur lama. Tidak ada ejaan baku cara penyebutannya. Meski disebut secara berbeda, seperti Shihab (mengikuti cara pengucapan Bule), Syihab, Shahab, Syhahab, berarti satu marga. Meski sama-sama bermarga Shihab, tidak mesti kenal apalagi sekeluarga. Shihab-nya Profesor Quraish dan Alwi berasal dari Makassar dengan ciri dan karakteristik Makassar. Shihab-nya Rizieq kental dengan kebetawian. Meski sama-sama Shihab, Quraish dan Rizieq tidak punya kesamaan baik cara berpikir dan bertindak. Quraish Shihab adalah alumnus terbaik Mesir dan doktor terbaik dalam bidang tafsir dari Universitas Al-Azhar, sebuah lembaga pendidikan yang sangat toleran dan menghargai pluralitas. Sedangkan Rizieq adalah alumnus King Abdul Aziz University, Arab Saudi, sebuah negara yang melahirkan Wahabisme yang puritan, kaku, dan anti keragaman.
June 6, 2008 at 4:31 am
brarti… sama-sama Syihab belum tentu sohib ya..? hehe..
June 6, 2008 at 8:52 am
Moga makin banyak Habib Type 2!!
…..kaya apa aja ada typenya.. heuhuhuhu
June 6, 2008 at 7:50 pm
Komentar idiot itu berasal dari orang idiot yang sok pinter, maklum sebagai korlap AKK-BB rencana aksinya berantakan.
June 7, 2008 at 3:24 am
kok gak dihapus ustadz koment diatasku ini?
June 7, 2008 at 12:59 pm
hahahaha, Ustad, menurut saya antara keduanya jelas tidak sama, yang satu asli shihab yang satunya “rejeck” shihab. Yah itulah orang buangan kok dibandingin ama yang “asli”, jauh beda lah!!!! Buat teman orang buangan yang tersinggung, kasihan deh lo!!!!!
June 8, 2008 at 6:39 am
yang jelas mari kita dukung keragaman
June 8, 2008 at 12:14 pm
hidup keragaman…!!!
June 9, 2008 at 2:42 am
kalo saya Shihab turunan palembang tapi lahir di jakarta, trus intinya apa ya pa ustaz, ??
Habib biasanya diberikan oleh massa pengikutnya, Prof kan titel…
beda ya…
trus paragraf terakhir…heheh ini sudah selesai apa blm ya tulisannya, ko ga ada korelasinya antara lulusan mesir dan king abdul aziiz…walopun berada di negara yang melahirkan wahabisme…
tumben pa ustaz, kurang gregetttt gitu tulisannya…afwan.
ML: Mungkin kurang greget karena ditulis dengan hati-hati. Maklum, super sensitif. Kalo soal latar belakang pendidikan, tentu itu ada korelasinya donk. Pembaca diharapkan dapat menyimpulkan sendiri, tanpa perlu dipandu dan dijelaskan secara ekspilisit.
June 14, 2008 at 2:09 am
mau tanya ustad, kalo sebutan “habib” di iran ada ga? atau di sana hanya “sayyid” saja?