Maulid ‘yang Bid’ah’?
Karena sudah berjanji mengantarkan anak-anak ke pusat permainan di Giant, sore hari kami sekeluarga meninggalkan rumah. Betapa terkejut saat kami melihat jalan menuju jalan raya ditutup total. Yang membuat kami kesal adalah tidak adanya pemberitahuan sebelumnya dari pihak aparat kampung tentang rencana acara maulid yang kolosal begini. Akhirnya kami harus memutar balik mobil dengan susah payah karena di belakang ada beberapa mobil yang juga terhenti di jalan yang sempit itu.
Acara maulid di masjid daerah cawang itu direncanakan berakhir pada pukul 2 dini hari. Menjelang acara maulid pukul 9 malam, sebelah kiri jalan besar Dewi Sartika ditutup, sehigga pengendara mobil dan motor hanya bisa melintasi jalan di sebelah kanan yang dibagi dua. Hal itu karena sepanjang jalan yang mengarah ke tempat penyelenggaraan maulid itu akan dikuasai oleh para konstituen majleis taklim Sang Habib dari pelbagai penjuru Jakarta yang datang dengan konvoi motor dan mobil-mobil angkutan yang diisi sesak hingga atap.
Jakarta kini menjadi ajang persaingan dan perang simbol tiga habib muda yang masing-masing men gerek bendera super majelis taklim. Nama-namanya mudah dihapal karena poster-posternya mengalahkan iklan rokok.
Ketiga majleis taklim ini bersaing ketat meraih animo dan rasa takjub masyakarat melalui eksploitasi simbol mulai dari bendera-bendera bertuliskan nama majelis taklim, poster raksasa, umbul-umbul sampai stiker dan jaket serta rompi dengan logo khas.
Sebagian orang mendukung ‘atraksi’ ini sebagai syiar Islam yang mesti didukung, dan masayarakat dimohon untuk rela mengorbankan kepentingannya demi mentakzimkannya. Sebagian lain menyesalkan akssi dakwah yang merugikan kepentingan masyarakat umum seraya bertanya-tanya, apakah setiap orang boleh mengabaikan hak masyarakat umum atas nama dakwah dan Islam? Kontroversi ini selalu ada.
Merayakan kelahiran Muhaqmmad saw, manusia teragung, sungguh sangat mulia. Tapi Mengadakan acara keagamaan hanya atas dasar niat baik saja tidak cukup. Bila kepentingan umum diabaikan dan bila, karena penyelenggaraan yang terkesan dibuat heboh itu, bisa menimbulkan kesan negatif terhadap simbol ‘habib’ (karena gelar ‘habib’ tidak bersifat personal, namun bisa disandang oleh siapapun yang diidentifikasi sebagai orang yang punya hubungan nasab dengan Nabi Saw, bukan hanya milik yang pakai sorban dan punya majelis taklim), dan bisa membuka peluang orang banyak memandang sinis terhadap Islam, maka acara penyelanggaraan maulid bisa dianggap bid’ah. Artinya, niat baik tidaklah cukup. Ada seperangkat syarat yang mesti dipenuhi untuk berdakwah. Bila tidak terpenuhi bukan saja tidak efektif, tapi bisa dianggap modus mencemarkan Islam.
Anak saya juga beberapa anak tetangga maupun yang sakit tentu sangat terusik oleh letupan petasan yang bertubi-tubi menggedor telinga sepanjang malam atas nama perayaan kelahiran Nabi termulai Muhammad Saw.
Inilkah contoh anarkisme sejati yang memancing sikap antipati terhadap Islam di denmark, belanda dan di Barat? Perlu studi khusus untuk memastikannya.
March 29, 2008 at 3:28 pm
Keluarga Suci Saaw sering mengungkapkan bagaimana Rasul begitu nyaman didekati, sepertinya Ia (Saaw) sibuk berlakon layaknya orang2 disekitarnya….sehingga kenyamanan SUPER diperoleh mereka yg berada didekatnya.
Lha’ kok nihh Habib sibuk2 lakon jadi orang2 yg sok besar…..
Kalo NAFSU maju, akal MLEBHUU……….
Bib…bib….bosen ahhhhhHhh !!!
March 29, 2008 at 3:31 pm
Alhamdulillah … sudah beli di Apotik TABLET anti Habib Palsu …
March 30, 2008 at 5:27 am
memang sudah seharusnya di indonesia ada lembaga yang menyortir mengenai k Habib an, ke Ustad an, dan ke Kyiai an sehingga Umat Nabi MUHAMMAD SAWW tidak bingung dan tidak menjadi korban pemanfaatan oknum oknum yg yang mengenakan sorban ALLAHUMMA SHOLI ALA MUHAMMAD WA ALI MUHAMMAD
March 30, 2008 at 4:16 pm
Setelah membaca tulisan Ustad ini di milis….saya berkata dalam hati, “Rupanya ustad Labib kesandung juga batu serupa yang menjengkelkan saya seminggu yang lalu, cuman beda tempat saja. Kalau Ustad kesandung di Cawang, saya di depan makam Kalibata….”. yah….orang-orang dengan tipe yang sama, tidak menghiraukan kepentingan umum.
Satu contoh konkrit bahwa kita telah banyak kehilangan tokoh-tokoh Guru (yang bisa digugu dan di tiru). hampir semua orang lebih suka menjadi pelacur-pelacur dengan polesan-polesan wajah di sana-sini untuk menarik minat pelanggan…..(maaf kalo ada kata-kata kurang berkenan).
Ustad masih mending bisa tetap naik mobil ke arah tujuan….sedangkan saya harus berjalan dari pertigaan kalibata sampai Binawan karena angkot dari pasar minggu dan pancoran tidak boleh lewat tempat prostitusi agama yang sedang digelar……..(sekali lagi maaf dengan kata-kata kotor yang ada)
March 31, 2008 at 12:57 am
Sebenernya tujuan acaranya apa sih? Mengagungkan “SAYYIDUL WUJUD” atau proklamasi diri?
Cape deh….!!!
March 31, 2008 at 4:49 am
Mungkin, ini mungkin ya, hal di atas masih “mending”. Beberapa hari yang lalu saya juga mengalami sedikit kemacetan tapi tidak separah yang di alami Ustad. sebabnya juga sama yaitu acaraMaulid. Dan yg saya lihat di acaratersebut tidak ada kumandang sholawat atau doa-doa tapi malah menampilkan band yang menyenandungkan lagu-lagu macam peterpan, ungu dan semacamnya dengan sepanduk memperingati Maulid Nabi. Acaranya digelar di halaman universitas Malang yang cukup ternama lagi. hmmm…
March 31, 2008 at 11:20 am
Capek deh bahas habaeb….saudara kita di Palestin tiap saat terbunuh…mereka ini kuno seperti di hadramout…nga ada perubahan apa2 dari 300 tahun yg dulu…bahas yg lain aja beb
March 31, 2008 at 4:29 pm
Dulu, sewaktu banjir melanda ibukota dan melumpuhkan aktivitas warga, gubernur (saat itu Sutiyoso) mengatakan bahwa peristiwa itu merupakan fenomena alam. Jadi, ya mau bagaimana lagi?…..
April 3, 2008 at 4:48 pm
Muawiyah Bin Abu Gozok say’s:
HUEHEHEHE…..RAYAKAN KELAHIRAN RASULLULAH ITU CUMAN KEDOK …..ASLINYA MEREKA PADA SIBUK MENGISI PUNDI-PUNDI MEREKA….( lihat tulisan ane di bloger yang judulnya “Nasabnya Rusak” )
April 4, 2008 at 7:54 pm
HUhehehe…..Skarang KOMENT Ane pada di sensorin ya Ustad ?
Nga Asik…Ane jadi curiga Jangan2x “Bang Buyung Labib” ini mantan Karyawan Departemen Penerangan di bagian Badan Sensor….
Huehehehe
December 4, 2008 at 9:33 am
Eh, biar gitu gitu, para habib, mau terjun kelapangan, memberantas ahmadiyah, sampe ditangkep sgala, bukan kaya ente smua, yg cuma bilang MAULID BIDAH , tapi liat, para ahli maulid itu berani, menantang ahmadiyah, sampe ditangkep…antum smua….embeeeeer doank…mana ada suaranya….hidup habib
April 5, 2009 at 2:33 am
ass
kita ga usah perdebatkan yg kaya gini…
kalo sesuatu hal seperti ini ambil hikmahnya saja
dengan adanya mereka, Islam menjadi lebih terlihat eksis
dengan tentunya harus diiringi penyempurnaan disana sini
dan kita hrs memberikan suara kita untuk penyempurnaan itu
tentunya dengan kata-kata yg baik..
Kalo kita hanya bisa ngeluh dan mencaci apa gunanya?
yang mngtakn maulid itu bid’ah sah-sah aja, itu haknya
namun jgn dijadikan sesuatu yg harus diperdebatkan!!
yang akhirnya menilai adalah Allah SWT
kita cuma menjalankan…
yg diharamkan itu adalah mengakui adanya Rasul setelah Nabi Muhammad SAW
itu yg harus di berantas, bukannya memperdebatkan masalah ttg Maulid!
jgn mau di pecah belah mereka yg memiliki kepentingan terselubung..
kalo kita hanya memikirkan kepentingan masing2 kelompok, Islam di Indonesia akan hancur.
Penulis di blog ini saya rasa sudah menulis dengan seadil-adilnya
ia hanya merasa kecewa dengan haknya yg sedikit di pinggirkan
jgn dikomentarkan menjadi perdebatan antara pro maulid dan yg tidak apalagi mencaci dengan kata2 kotor.
ia hanya ingin maulid dilaksanakan dengan memperhatikan lingkungan sekitar.
wass
April 25, 2009 at 9:14 am
Assalamualaikum.numpang pa ustad..tul butul kata abang diatas saya,,,,ane juga penggemar maulid,,tapi yang bener-bener menggunakan akhlak donk?..masa parkiran juga dimintain,,lah..beli tanah juga kage…jadi yang suka bikin maulid dijalanan, silahkan aja si,,dengan syarat, alternatif jalan lain harus difikirkan juga,,kasian pengguna jalan..jadinya begini nih,,maulid jadi dicaci maki,,saleh pelaku sendiri, wong orang dakwah bener caranya aja masih ada yang ga suka, apalagi kita menampilkan bagian syariat islam dengan cara mengganggu kepentingan umum..
kalau masalah berisik si, itu lain lagi,,kadang dangdutan kage ada respon negativenye,hehe,,eh ada yang sholawatan kenceng2 dimaki2..ane fikir kurang adil juga si klu sikap begitu.,wassalam